Spiritual Imajinatif: Membangun Ketenangan Batin di Bumi yang Gelisah
Oleh: Dr. H. Muhammad Nasir, S.Ag., M.H., Kakan Kemenag Anambas
“Pada hari (ketika) orang-orang yang kufur dihadapkan pada neraka, (dikatakan kepada mereka,) “Kamu telah menghabiskan (rezeki) yang baik dalam kehidupan duniamu dan bersenang-senang dengannya. Pada hari ini kamu dibalas dengan azab yang menghinakan karena kamu takabur di bumi, padahal tidak berhak (untuk sombong), dan (juga) karena kamu selalu durhaka.” (QS Al-Ahqaf: 20)Planet bumi yang luas dan menakjubkan tempat kita tinggal ini dirancang untuk umat manusia dan beragam bentuk kehidupan yang mendiaminya. Sebagai puncak ciptaan, manusia diberi tanggung jawab untuk melindungi dan membudidayakan kehidupan di Bumi agar tetap hidup, lestari, dan berkelanjutan.Sayangnya, kehidupan di planet kita telah berubah menjadi ranah perselisihan, keserakahan, penindasan, dan ketidakadilan, mengubah wajah bumi yang dulunya elegan dan indah menjadi binatang buas yang menakutkan dan penuh kecemasan dan penderitaan.Renungkan saja kejadian-kejadian yang dialami oleh sebagian penduduk bumi di berbagai wilayah di dunia (Amerika, Iran, dan lainnya) sebagai akibat perang yang telah menghancurkan kebahagiaan, kenyamanan, dan kesejahteraan manusia, serta eksploitasi alam yang meluas di wilayah lain, yang menjadi bukti kejahatan dan keserakahan manusia.Kecemasan yang ada di bumi dan ketakutan yang telah menimpa umat manusia saat ini pernah dipertanyakan oleh para malaikat ketika Allah SWT bermaksud menciptakan anak Adam (manusia).Hal ini dijelaskan Allah SWT dalam QS Al Baqarah ayat; 30: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”(QS.2:30).Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah menciptakan Bani Adam (manusia) sebagai khalifah di bumi. Khalifah itu akan terus berganti dari satu generasi ke generasi berikutnya sampai hari Kiamat nanti dalam rangka melestarikan bumi ini dan melaksanakan titah Allah yang berupa amanah tugas-tugas keagamaan.Para malaikat dengan serentak mengajukan pertanyaan kepada Allah, untuk mengetahui lebih jauh tentang maksud Allah. Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menciptakan manusia yang memiliki kehendak atau ikhtiar dalam melakukan satu pekerjaan sehingga berpotensi merusak dan menumpahkan darah di bumi dengan saling membunuh, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Malaikat menganggap bahwa diri merekalah yang patut untuk menjadi khalifah karena mereka adalah hamba Allah yang sangat patuh, selalu bertasbih, memuji Allah, dan menyucikan-Nya dari sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya. Menanggapi pertanyaan malaikat tersebut, Allah berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”Rancangan agung Allah SWT untuk dunia ini adalah diciptakan-Nya umat manusia. Walaupun Tuhan memahami bahwa manusia memiliki kekurangan, seperti yang dikhawatirkan para malaikat, tetapi kualitas positif mereka jauh melampaui kekurangan tersebut. Inilah tempat asal mula peradaban manusia lahir, sebuah inisiatif monumental yang menawarkan keuntungan signifikan bagi kehidupan manusia di bumi.Kekhawatiran para malaikat telah menjadi kenyataan hari ini. Dampak buruk dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang melahirkan kesombongan globalisasi modern telah menyebabkan munculnya berbagai kejahatan dan penyimpangan yang menciptakan kekacauan di planet ini. Konflik (kekerasan) kini mengabaikan kemanusiaan dan keadilan, sementara ekspansi ekonomi global telah merusak keberkahan rezeki di bumi. Makhluk bumi termasuk manusia telah kehilangan rasa nyaman dan ketenangan disebabkan hidup ini telah melanggar prinsif-prinsif kemanusiaan dan kesejahteraan sosial, yang merupakan anugerah Allah di planet ini. Inilah cermin peradaban bumi hari ini yang di khawatirkan para-malaikat sebagaimana yang kita sebutkan diatas.Lahirnya peradaban bumi (earth civilization) yang semakin manjauh dari kebenaran Tuhan, telah merambah kekuatan benih-benin suci cinta dalam jiwa. Manusia menjadi makhluk kanibal yang sulit dikendalikan, karena menipisnya rasa cinta yang sejati. Akibatnya, peperangan dan pembunuhan menjadi ajang tontonan yang dibanggakan. Nafsu serakah seakan-akan tidak lagi dapat dikendalikan, sehingga kejahatan kemanusiaan menjamur bak cendawan tumbuh di bumi. Urusan kebenaran dapat di lindas dengan kepentingan jabatan dan politik, yang kaya semakin kaya yang miskin semakin miskin, begitu tutur Bang H. Roma Irama dalam lirik lagunya.Sebuah pertanyaan penting sering kali memenuhi pikiran kita: apakah masih ada cinta yang tersisa di hati manusia? Ketika cinta memudar, kecemasan tetap meresap ke dalam jiwa kita yang berduka. Generasi muda mungkin menjadi lebih bingung dan bahkan ragu ketika mereka menghadapi masa depan yang semakin menantang. Jalan hidup semakin sempit, penuh sesak dengan tipu daya dan kebohongan yang telah menjadi tren gaya baru.Meskipun kita mungkin tidak dianggap sebagai makhluk liar, kita tampaknya merasakan hukum rimba yang berlaku. Oh bumi, dapatkah engkau terus menanggung beban beratnya tumpukan kebohongan dan kepura-puraan manusia yang telah dipaksakan kepadamu?Nalar manusia terus berkembang. Ia telah melampaui kenyataan yang sedang di hadapi. Perkembangan metodologi, strategi dan imanjinasi terus berkembang menjangkau kesukaran hidup yang dihadapi. Untuk memenuhi tuntutan pengetahuan yang melangit kita butuh imajinasi yang membumi, agar manusia-manusia bumi dapat hidup dalam kebahagiaan dan ketenangan yang melangit. Sebenarnya istilah imajinasi sudah lama di kenal dalam ilmu filsafat. Bahkan sejak Yunani sampai ke Kiwari istilah ini sudah berkembang pesat sampai kepada peradaban ilmu saat ini. Yunani menyebut sebagai phantasia sedang dalam filsafat Aristiteles diartikan sebagai kemampuan menghasilkan phantasmata, gambar, representasi dan pengalaman indrawi (Haidar Bagir; 2025). Dimasa sekarang imanjinasi telah berkembang lagi menjadi model alat tafsir yang dapat melampaui tafsir indrawi. Seperti yang dikembangkan oleh Schelling (2025) bahwa imajinasi adalah organ absolut yang menyatukan subyek-obyek. Sehingga dalam psikologi modern, imajinasi disebut langsung sebagai imajination, imajinary faculty, atau mental imagery. Hal ini dijelaskan dalam cognitive science, bahwa imajinasi difahami sebagai mekanisme representasi mental non-inderawi dalam bentuk citra. Namun, manusia tidak cukup hidup tenang dengan imajinasi tetapi perlu didampingi dengan spiritualitas, sebab di dalam spiritualitas terdapat cahaya suci yang menerangi hati di bumi. manusia membutuhkan dua asfek tersebut untuk kehidupan yang berkelanjutan.Spiritualitas adalah sebuah konsep yang telah berkembang dalam ranah filsafat agama dan mistisisme. Istilah ini berasal dari bahasa Latin: kata spiritus sangat terkait dengan kata kerja spirare (bernapas). Dalam konteks ini, memiliki napas menandakan memiliki roh atau jiwa, yang menunjukkan bahwa spiritualitas pada dasarnya terkait dengan esensi keberadaan manusia. Perkembangan Bahasa: Istilah ini berasal dari bahasa Latin spiritualis menjadi spiritualite (bahasa Prancis Kuno) dan spirituality (bahasa Inggris).Dalam konteks sejarah: Pada abad pertengahan akhir, istilah ini digunakan untuk merujuk pada hal-hal yang berkaitan dengan kerohanian, sering dikontraskan dengan hal-hal yang bersifat fisik atau duniawi (daging). Secara umum makna spiritualitas adalah sebagai hubungan dengan jiwa, ruh, atau hal-hal yang non-materi. Ini mencakup pencarian makna hidup, tujuan hidup, dan hubungan dengan Yang Maha Kuasa. Dalam konteks keislaman, spiritualitas sering dikaitkan dengan istilah ruhaniyyah atau ma'nawiyyah, yang berakar dari kata ruh (ruh).Penulis mengkarakterisasi spiritualitas imajinatif sebagai kerangka kerja untuk mengakui dan memahami esensi agama (baca;Islam) yang memelihara ruh Ilahi dalam diri manusia. Manusia religius yang kreatif akan mengembangkan esensi kemanusiaannya yang terus-menerus mendekati Tuhan melalui metode dan simbol pemahaman, pengalaman, dan tindakan keyakinan total. Dengan terlibat dalam tindakan iman ini, mereka memahami kebenaran tertinggi yang secara konsisten menjadi tujuan agama itu sendiri.Beragama secara imajinasi bukan sekedar menjalankan aturan atau meyakini dogma. Ia adalah perjalanan batin, gerak jiwa yang mendapatkan pengetahuan hakiki dan mencari kedekatan dengan yang Ilahi. Banyak tokoh spiritual dan para Nabi diberi kemampuan untuk menafsirkan mimpi. Seperti nabi Ibrahim as, ia mampu menafsirkan mimpi bahwa ia menyembelih Ismail, begitupun nabi Yusuf mampu menafsirkan mimpi ayahnya. Semua kenyataan tafsirannya merupakan realitas ruhani yang tampil dalam bentuk imajinatif.Beragama tanpa imajinatif, cenderung kering dari nilai-nilai ruhani. Beragama secara batin dengan imajinasi melatih jiwa untuk merasa cinta, kagum dan ta’zim sehingga membangkitkan emosi ruhani yang membuat agama tak sekedar kewajiban, melainkan pengetahuan dan kerinduan spiritual. Lalu bagaimana agama dapat menjadi sumber ketenangan bathin di tengah-tengah hiruk pikuknya penduduk bumi yang sedang gelisah?Pertama, Mengenal kembali hakikat kehidupan di BumiMengenal hakikat kehidupan di bumi suatu kewajiban bagi manusia. Dalam hal ini Allah SWT memberi petunjuk; “Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepada-Ku” (Qs.Adz-Zariyat;56). Hakikat hidup manusia di bumi adalah untuk mengenal Allah SWT, melalui ibadah (penyembahan kepada Allah SWT).Salah satu ibadah yang paling utama adalah shalat. Sebab itu shalat menjadi kunci utama untuk masuk kepintu Tuhan. Shalat menjadi sarana mengenal cinta Ilahi. Di dalam shalat seorang hamba dapat bermesraan dengan Allah swt dan selalu rindu dengan-Nya. Shalat yang sempurna melahirkan kemesraan bersama Allah. Sementara rindu kepada-Nya terwujud dengan bersungguh-sungguh menuju-Nya.Menurut Ibnu ‘Arabi, kata shalat diambil dari mushalli fi al-khail, yaitu shalat menduduki tempat kedua dalam lapangan pacu. Adapun posisi pertama adalah syahadat tauhid, kemudian shalat, zakat, puasa dan terakhir haji. Shalat adalah rahmah (kasih sayang), yaitu sholat al-haq (shalat Allah untuk makhluk-Nya), sebagaimana dalam firman Allah swt, Qs.Al-Ahzab; 43; “Dialah yang (yushalli) memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), agar Dia mengeluarkan kamu dari berbagai kegelapan menuju cahaya (yang terang benderang). Dia Maha Penyayang kepada orang-orang mukmin “(Qs.al-Ahzab;43)Petunjuk ayat diatas menurut Ibnu ‘Arabi rahmat Allah sangat jelas dalam beberapa hal:Pertama: mengeluarkan hamba-Nya dari kegelapan kepada cahaya, dari kesesatan kepada hidayah, dan dari kesusahan kepada kebahagiaan. Rahmat inilah yang mencakup seluruh ciptaan yang bersifat wujud maupun pengetahuan.Kedua: Tajalli Allah kepada hamba-Nya, dengan seluruh sifat dan tindakan. Dengan demikian shalat adalah kehadiran hati untuk menerima segala tajalli sifatnya. Setiap cahaya tajalli membutuhkan hati yang lembut dan muraqabah (merasa diawasi).Ketiga: Shalat Allah berarti Dia memberikan wujud kepada hamba-Nya setelah kefanaannya, sehingga dia mendapatkan petunjuk dengan cahaya-cahaya Allah swt. Hal demikian terhimpun dalam shalat ‘uluhiyah antara wujud dan ma’rifat atau tauhid. Keempat; Ibnu Arabi mengalihkan dengan sangat berani sehingga pada hakikatnya shalat adalah musyahadah (penyaksian bathin). Shalat yang musyahadah (menyaksikan) akan menjadikan mushalli (orang yang shalat) memiliki hati tunduk dan tawaddu’. Inilah sikap yang terbangun jika seorang hamba benar-benar merasakan wujud shalat yang dapat mencegah perbuatan keji dan munkar.Berbuatlah dengan (tawadhu’) rendah hati, karena kerendahan hati berfungsi sebagai cahaya penuntun di jantung iman, mewakili penghormatan tertinggi dalam semua hal yang dinilai atau berkaitan dengan tauhid dan ma'rifat. Seseorang yang rendah hati memahami bahwa semua yang dimilikinya, baik itu penampilan yang menarik, kebijaksanaan, kekayaan, atau status dan gelar, semuanya adalah berkah dari Allah SWT. Dengan kesadaran ini, ia tidak akan sombong terhadap orang lain, apalagi menunjukkan kesombongannya terhadap Allah SWT. Yang menciptakan alam semesta dan segala isinya.Kedua: Hadirkan hati dalam audiensi dengan IlahiDalam bahasa sehari-hari sering kita temui bahasa bahwa sakit hati lebih berbahaya dari sakit gigi. Ternyata kalimat itu benar, sesungguhnya hati adalah alat pengendali seluruh perasaan, niat, perilaku dalam kehidupan manusia. Apapun yang kita rasakan, baik senang, susah, sakit dan bahagia bermula dari perasaan di hati. Sebab itu jangan sampai hati manusia itu sakit, karena jika sudah sakit sulit untuk mengendalikan seluruh perasaan di atas. Dalam kitab, “Faidhul Qadir” Syeikh Al-Manawi menyebutkan bahwa jika anda diliputi kebingungan, keragu-raguan, atau tidak percayaan atas apa yang dilakukan oleh seseorang, dan Anda ingin tahu kebaikan yang sesungguhnya, maka tanyakanlah kepada hati (dhamir) Anda tentang apa sebenarnya yang tersimpan dalam hati orang itu, hati Anda akan memberi tahu rahasianya. Dalam hal ini Allah swt telah memberitahu bahwa hati tidak pernah berdusta “seperti firman-Nya,”hati tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya”(QS.An-Najm:11), kecuali hati kita memang sudah sakit.Menurut Martin Heidegger (2010), seorang filsof Barat, menyebutkan, “En ruf aus mir und doch uber mich”, panggilan itu dari diriku tetapi aku sendiri yang harus mengatasinya”. Ungkapan ini menyatakan bahwa jika kita memanggil atau berdo’a kepada Allah maka kita melakukan panggilan atas diri sendiri sebab itu kita harus menghadirkan hati di hadapan Allah dan kemudian melakukannya dengan ikhtiar. Hadirnya hati berarti bathin kita telah berada dekat dengan-Nya dan bahkan bisa melebur atas izin-Nya.Menghadirkan hati di hadapan Allah swt merupakan inti ibadah yang wajib diwujudkan. Kehidupan manusia di bumi tidak terlepas dari bimbingan bathin yang dekat dengan Allah. Di sana tingkat kebahagiaan dan ketenangan akan terwujud dalam bentuk rahmat yang sangat besar. Sebagai khalifah fil-ardhi, manusia bertanggungjawab terhadap seluruh tindakannya. Bumi tidak akan makmur dan sejahtera jika tidak dipelihara dengan sentuhan hati. Alam semesta yang telah diciptakan Allah memiliki ruh jika dipelihara oleh orang-orang yang memiliki hati yang suci.Sebab itu orang-orang yang telah berhasil menyucikan hatinya ia akan menjadi manusia yang sangat mulia yang selalu diterangi oleh cahaya iman atau spiritualitas.Hakikat kemanusiaan kita bertumpu pada realitas spiritual, maka dimensi ini ibarat pohon yang akan berkembang sehat dan berbuah ketika mendapatkan cukup vitamin, yaitu dengan jalan audiensi dan mengasosiasikan diri dengan zat pencipta yang Maha spiritual. Jiwa kita akan senantiasa suci apabila selalu berada dalam dekapan Tuhan Yang Maha Suci. Sebab itu menghadirkan hati dalam beraudiensi dengan Allah swt, merupakan langkah utama menuju ketenangan bathin yang hakiki.Ketiga: Melepaskan belenggu duniawiMelepaskan belenggu duniawi merupakan upaya menjemput kebahagiaan akhirat. Banyak orang yang mengejar dunia dan segala isinya tanpa memikirkan kebahagiaan akhirat yang kekal dan abadi. Allah berfirman; “Wal akhiratu khairu waabqa (Qs.Al-A’la;17)”. Kebahagiaan akhirat yang abadi itu merupakan janji Allah swt, bagi orang yang melepaskan belenggu duniawi. Mengejar dunia tidak akan pernah selesai dan finish. Manusia akan tetap berlomba-lomba mengejar dunia ini selagi masih ada kehidupan di bumi, namun jangan sampai tak tersisa lagi waktu untuk mencari kesenangan akhirat demi kesenangan duniawi.Terdapat suatu kisah yang menarik dalam hal ini. Suatu hari Umar Bin Khattab, melihat Jabir bin Abdullah membawa daging. Umar bertanya,”Apakah ini, hai Jabir?” Jabir menjawab,” ini daging yang saya beli karena saya menginginkannya.” Umar menukas, “Apakah semua yang kamu inginkan kamu beli. Tidakkah sebaiknya kamu mengosongkan sebagian perut kamu untuk memberikan makanan kepada tetanggamu dan keponakanmu. Tidakkah kamu perhatikan firman Allah SWT, ”Kesenanganmu telah kamu habiskan dalam kehidupanmu di dunia dan kamu telah bersenang-senang dengannya?”Umar bermaksud, bahwa orang yang terus-menerus memenuhi keinginannya, pada hakikatnya tidak menyisakan sebagian dari kesenangan itu untuk hari akhirat. Sekiranya ia mengurangi kenikmatan itu dan membagikannya kepada orang lain, ia telah menyisakannya untuk hari kemudian.Tentu saja, setiap makhluk di langit dan di bumi memiliki hak untuk hidup dan merasakan kebahagiaan serta pelukan cinta Allah, swt. Manusia adalah salah satu makhluk yang diberi hak istimewa dan penghormatan khusus oleh-Nya. Setiap manusia memiliki kemampuan untuk berpikir dan merasakan, yang membedakannya dari malaikat, hewan, tumbuhan, dan makhluk lain yang telah dimuliakan Allah SWT dengan kedudukan yang sangat tinggi. Manusia dengan jiwa yang mulia selalu berusaha meniru panutan mereka, yaitu Nabi Muhammad (saw). Sementara Nabi selalu menunjukkan bagaimana menikmati hidup di dunia ini dengan tulus. Dalam riwayat lain, Umar bin Khattab meriwayatkan: Suatu ketika, aku memohon kesempatan untuk bertemu Nabi Muhammad, saw. Aku mendapati beliau sedang beristirahat berbaring di atas tikar yang sangat kasar. Sebagian tubuhnya tergeletak di tanah. Beliau hanya memiliki bantal berupa pelapa kurma yang keras. Aku ucapkan salam kepadanya dan duduk di sampingnya. Aku tak kuasa menahan air mata.“Mengapa engkau menangis hai Umar, Rasulullah bertanya. Aku berkata, “Bagaimana aku tidak menangis. Tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh engkau. Engkau ini nabi Allah, kekasih-Nya. Kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Padahal di tempat sana, Kisra dan Kaisar duduk di atas katil emas, berbantalkan sutera.” Nabi yang mulia berkata, “Mereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga, kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk akhirat nanti.Betapa banyaknya manusia kemuliaannya hilang karena hidupnya dikendalikan oleh kesenangan duniawi yang memperdaya. Hatinya terpaut kuat dengan kemegahan, kemewahan dan daya tarik dunia yang fana. Padahal hati yang demikian adalah hati yang terbelenggu. Ibn al-Qayyim Al-Jauziyah (1990) menjelaskan bahwa seseorang yang selalu gelisah adalah seseorang yang mengidap penyakit hati akibat dibelenggu oleh dunia. Hatinya telah diselimuti oleh kekotoran nafsu duniawi yang membelit saluran perasaannya sehingga terasa sempit pada jalan menuju akhirat sehingga terpenjara dalam hawa nafsunya sendiri. Namun begitu, apabila cahaya keimanan terbit pada hatinya, ia akan yakin dengan janji Allah SWT dan memenuhkan hati dengan perasaan cinta dan kagum akan kebesaran-Nya. Hal ini menjadikan hati seseorang lembut serta dipenuhi dengan sifat belas kasihan dan rahmat, sehingga menjadikan seseorang hamba itu lebih dekat dengan Allah SWT.Kesadaran untuk melepaskan ikatan duniawi demi mempertahankan kebahagiaan di akhirat adalah persepsi spiritual imajinatif yang ditunjukkan oleh para nabi dan rasul. Pemahaman ini tidak menghilangkan kenikmatan duniawi. Ini hanya menandakan untuk menahan diri dari menikmati semua kesenangan dunia ini. Ini menandakan bahwa tidak semua tujuan hidup didedikasikan untuk mengejar dunia ini dan segala isinya.Pencarian dunia ini hanyalah sarana untuk meningkatkan kebahagiaan dan kepuasan di akhirat yang lebih indah dan abadi. Inilah rahasia ketenangan batin yang dicari oleh semua orang. Karena itu, kesampingkan sementara kenikmatan duniawi, karena ia hanya menambah kegelisahan bathin di bumi. Sambutlah kebahagiaan akhirat dengan menciptakan spiritualitas imajinatif, yang mencerminkan jalan para nabi dan rasul. Marilah kita berusaha untuk menumbuhkan ketenangan batin di tengah dunia yang penuh gejolak. Semoga aamiin.***