Secangkir Kopi Panas Dalam Makna Falsafah Melayu
Oleh: Dr. H. Muhammad Nasir, S.Ag. M.H., Kakan Kemenag Anambas
Jika hendak mengenal orang yang berilmu, bertanya dan belajar tiadalah jemu (Gurindam V)Dalam sebuah perbincangan dengan seorang tokoh Melayu—sebut saja inisialnya AR—di sebuah kedai kopi di Tarempa, Kabupaten Kepulauan Anambas, saya memperoleh sudut pandang baru yang sangat mendalam mengenai pengalaman hidup masyarakat Melayu di Anambas. Sosok yang tidak ingin disebutkan namanya ini berbagi wawasan dan pemikiran yang mendalam seputar interaksi sosial. Sebagian besar diskusi kami berfokus pada pepatah tradisional serta prinsip-prinsip hidup yang dianut oleh masyarakat Melayu. Di ujung percakapan kami—atau yang oleh orang Melayu disebut sebagai “berbual”—saya menyimpulkan bahwa masyarakat Melayu dan secangkir kopi adalah dua hal yang hampir tak terpisahkan.Dalam masyarakat Melayu, ungkapan "secangkir kopi" sudah dikenal sejak lama, mengingat kopi merupakan minuman yang kerap disebut dalam interaksi sosial sehari-hari. Meski tidak semua orang gemar meminum kopi, bisa dikatakan bahwa jauh lebih banyak orang yang menyukai aromanya. Aroma ini bahkan sangat dihargai, hingga banyak parfum ternama di dunia yang menyertakan aroma kopi ke dalam komposisinya.Saat mengonsumsi kopi, kondisi batin seseorang terasa berbeda dibandingkan saat tidak mengonsumsinya. Apa penyebabnya? Para pencinta kopi meyakini bahwa kopi mampu "meregangkan" waktu—atau setidaknya, memperpanjang durasi waktu yang dihabiskan di kedai kopi. Namun, bukan itu yang kita maksud. Yang kita maksud adalah bahwa Kopi, sebagai minuman khas dalam masyarakat Melayu, melambangkan kehangatan (warmth), kebersamaan (togetherness), dan keakraban (familiarity).Pertama, Kehangatan (warmth)Kehangatan muncul dari karakteristik khas kopi panas. Kita jarang menjumpai orang yang mengonsumsi kopi dingin; umumnya, mereka meminum kopi panas. Sebuah prinsip yang sangat efektif di kalangan masyarakat Melayu adalah bahwa kehangatan dalam hubungan antar sesama dapat menumbuhkan semangat untuk memulai aktivitas sehari-hari. Tidak ada waktu yang terbuang untuk bermalas-malasan, dan tidak ada kata-kata sia-sia dalam kamus kehidupan mereka. Hal ini selaras dengan doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, "Ya Allah, jauhkanlah aku dari rasa malas." Namun, jika ada orang Melayu yang pemalas padahal terbiasa minum kopi sekadar untuk bersantai, maka itu bukan tipikal orang Melayu, melainkan individu yang bersangkutan yang belum memahami makna di balik secangkir kopi.Kemalasan dibenci oleh semua orang. Setiap hari, kita terus-menerus dihadapkan pada berbagai literatur dan artikel yang menyatakan bahwa sifat malas pada akhirnya akan berujung pada kemiskinan dan kesengsaraan. Ada banyak faktor yang dapat memicu kemalasan, mulai dari lingkungan keluarga, jejaring sosial, hingga faktor-faktor kemasyarakatan yang lebih luas. Saat ini, banyak orang melewatkan berbagai kegiatan yang lebih bermakna karena kecanduan media sosial di ponsel pintar mereka—menghabiskan waktu dengan menggulir layar handphone tanpa tujuan yang jelas. Di sisi lain, ada pula orang yang menjadi terlena karena tidak pernah dihadapkan pada kesulitan.Dibesarkan dalam lingkungan di mana semua kebutuhannya terpenuhi, pikiran mereka menjadi tumpul; mereka enggan berpikir secara mandiri karena terbiasa menganggap bahwa segala sesuatu sudah pasti tersedia (taken for granted).Seseorang yang diliputi rasa malas pada dasarnya telah memenjarakan dirinya sendiri di tengah kebebasan dan ribuan kesempatan. Sebab itu, pantaslah Nabi dengan bijak mengatakan bahwa sifat pemalas Adalah penyakit yang berujung kepada kemiskinan dan kemelaratan. Untuk itu kopi panas bagi masyarakat melayu bukan sekedar minuman biasa tetapi lebih dari itu ia menjadi sumber kehangatan yang melelehkan sifat malas dalam menghadapi tantangan global yang sedang menghadang.Kedua, Kebersamaan (togetherness)Kebersamaan merupakan sikap yang muncul dari lingkungan yang terbangun saat menikmati kopi bersama orang lain. Masyarakat Melayu jarang sekali minum kopi sendirian; setidaknya, mereka menikmatinya bersama keluarga inti atau tetangga yang dikenal. Nilai kebersamaan merupakan kekuatan kolektif yang perlu dipupuk. Ibarat sekumpulan lidi yang jika diikat menjadi satu akan memiliki kekuatan untuk membersihkan kotoran dalam jumlah besar—sebuah lidi yang berdiri sendiri tentu tidak akan mampu memberikan hasil yang sama.Mereka yang menghargai kebersamaan pada hakikatnya sedang membentuk pribadi yang sangat terbuka dan toleran terhadap perbedaan atau keberagaman—baik dalam gagasan maupun praktik ritual. Bagi mereka ini, perbedaan dan keberagaman tidak memicu cara pandang yang tertutup; sebaliknya, perbedaan dan keberagaman dipandang sebagai sumber kebijaksanaan—sebuah jalan menuju pertumbuhan yang memperluas pemahaman dan memperkaya (enrichment) wawasan serta meningkatkan kemampuan kreatif seseorang.Kebersamaan dapat membangun wawasan social yang lebih solit dan tidak mengklaim diri sendiri yang paling benar. Sikap ini sangat menghargai pendapat orang lain yang berbeda dengannya. Suatu waktu, Idham Khalid, ketua nahdjatul Ulama naik haji satu kapal dengan Buya Hamka, seorang tokoh Muhammadiyah. Setiap subuh diadakan sholat berjamaah dengan imam shalat bergantian. Ketika Idham Khalid menjadi imam, dia berqunut, dan Buya Hamka yang menjadi makmum ikut berqunut.Pada hari yang lain, giliran Buya Hamka menjadi Imam, ia tidak berqunut dan Idham Khalid mengikutinya tanpa mengulangi sholatnya. Perbedaan dalam ibadah tidak mengalahkan kebersamaan dan persaudaran sejati. Begitulah prinsip orang melayu, mereka saling menghargai demi menjaga Marwah yang suci dan mulia.Ketiga, Keakraban (familiarity)Rasa akrab merupakan esensi kekeluargaan yang muncul dari emosi yang mendalam. Perasaan akrab akan menumbuhkan kelapangan berpikir dan perasaan satu jiwa dalam memperlakukan orang lain serta berekspresi santun saat berinteraksi sosial. Kita merasa sulit untuk melupakan seseorang yang pernah dekat dengan kita.Keakraban seseorang kepada orang lain melahirkan ketulusan, yaitu ketulusan dalam memperlakukan orang lain dengan keterbukaan hati terhadap orang tersebut. Agama juga mengajarkan bahwa kebahagiaan seseorang di dunia dan akhirat tergantung kepada ketulusannya dalam berhubungan dengan sesama manusia, setelah hubungannya dengan Allah terjaga dengan baik.Allah berfirman: “Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”(QS.Al-Qasas.77).Para mufassir menafsirkan ayat tersebut mengandung larangan dan pernyataan yangs angat penting bagi manusia. Pertama: Allah memerintahkan agar manusia mencari dan menuntut kebahagiaan kehidupan di akhirat nanti dengan menggunakan berbagai nikmat yang di anugerahkan Allah swt ketika hidup di dunia. Kedua: Allah melarang manusia melupakan kehidupannya di dunia. Ketiga: Allah memerintahkan untuk berbuat kebaikan kepada sesama manusia dan lingkungan. Perintah ini dimaksudkan sebagai rasa Syukur atas Kebajikan yang diberikan Allah swt kepada manusia itu sendiri. Keempat: Allah melarang manusia melakukan kerusakan di bum, sebab perbuatan itu pada hakikatnya merupakan perbuatan yang merusak manusia dan lingkungannya. Dan Kelima; Allah menyatakan ketidak sukaan-Nya terhadap orang-orang yang berbuat kerusakan.Dengan demikian, Allah menuntut ketulusan itu kepada setiap manusia. Dalam beragama sikap tulus sangat utama. Ketulusan secara Bahasa disebut juga dengn kaikhlasan berarti membersihkan sesuatu dengan sebersih-bersihnya, atau semata-mata, murni, tidak bercampur dengan yang lain (Umar Shihab; 2001). Karena itu seseorang yang melakukan sesuatu karena semata-mata hanya mengharap keridhaan Allah swt disebut Mukhlis atau orang yang tulus ikhlash.Selain itu, keakraban merupakan energi batin yang dapat membangun rasa kasih sayang antar sesama. Alangkah indahnya rasanya jika nilai-nilai kasih sayang dan jiwa yang lapang dada menjadi motto kehidupan bermasyarakat. Apalagi kehidupan global saat ini. Dimana-mana kesibukan dan atmosfir kehidupannya sangat eksplosif, mudah meledak dan mudah tumpah kata caci serapah. Ditambah lagi melalui kebebasan berbedsos orang mudah mengadu domba satu sama lain. Untuk itu jika ada iktikat baik dari pemerintah untuk menjadikan nilai kasih sayang ini menjadi insfirasi Bahasa Pembangunan yang sedang digalakan.Begitu hal ini disadari, kita dapat membayangkan sebuah komunitas yang penuh kepedulian—komunitas marhamah—di mana setiap individu merasakan hubungan batin yang mendalam. Di mana pun kita berkumpul, akan ada sambutan yang ramah dan menenangkan, disertai senyuman lembut penuh pengertian dari seluruh masyarakat. Masyarakat Melayu senantiasa menuntut ilmu dan tidak pernah merasa lelah dalam mencarinya. Bagi mereka, secangkir kopi panas bukan sekadar rutinitas; kopi panas dapat menjadi sarana untuk menjalin hubungan sosial—melambangkan kedekatan, persatuan, dan keakraban—seraya mereka mengarungi kehidupan demi menemukan makna yang lebih dalam atas keberadaan diri mereka.