Reading Culture

Reading Culture

Oleh: Dr. H. Muhammad Nasir, S.Ag. MH, Kakan Kemenag Anambas

Mengapa kita harus membaca? Dan mengapa wahyu pertama turun dari Allah SWT diawali dengan perintah untuk membaca?

Aktifitas membaca sangat erat kaitannya dengan prinsip-prinsip Islam. Hal ini tercermin dalam wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah—Nabi Muhammad SAW—yang memuat perintah untuk membaca. Meskipun pada masa itu membaca belum menjadi kebiasaan yang umum di kalangan masyarakat. Sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Alaq ayat 1-5: “1. Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakanmu, 2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. 3. Bacalah! Tuhanmulah Yang Mahamulia,4. Yang mengajarkan (manusia) melalui kalam 5. Dia mengajarkan manusia dari yang tidak diketahuinya.”(Qs. Al-Alaq;1-5).

Dalam ayat tersebut, perintah untuk membaca merupakan ketetapan dari Allah SWT yang memungkinkan manusia memahami keagungan Allah beserta seluruh ciptaan-Nya. Memahami keagungan Allah adalah hal yang esensial untuk meraih keberhasilan dalam perjalanan spiritual seseorang. Dalam konteks ini, membaca merupakan aktifitas mulia dan produktif sebagai wujud pengabdian.

Aktivitas membaca juga berkaitan erat dengan aktivitas menulis; keduanya meletakkan dasar literasi Islam yang telah menumbuhkan peradaban ilmu pengetahuan. Catatan sejarah menunjukkan bahwa budaya baca-tulis berkembang pesat dalam peradaban Islam, menghasilkan beragam karya tulis - berupa buku - karya para cendekiawan dan filsuf yang kontribusinya masih dihargai hingga saat ini.

Budaya membaca telah ada sejak zaman dahulu. Ini merupakan kegiatan produktif yang mendorong aktualisasi diri dan pemikiran idealistis, serta memotivasi penulisan yang imajinatif. Tidak diragukan lagi, pengembangan budaya membaca sangat penting untuk mendukung aktualisasi diri dan menumbuhkan kecerdasan kreatif.

Tujuan utama membaca adalah mendorong perkembangan mental dan spiritual; oleh karena itu, memupuk budaya ini sangatlah penting guna membangun tradisi yang melahirkan masyarakat dengan beragam sudut pandang dan sikap berpikiran terbuka. Dengan demikian, kebiasaan membaca perlu terus dipelihara; mengabaikannya akan menyebabkan penurunan kualitas, baik bagi individu maupun masyarakat. Budaya membaca yang lemah menghadirkan tantangan tersendiri bagi generasi penerus bangsa.

Di dunia yang penuh dengan tantangan, setiap individu memerlukan landasan yang kokoh untuk membangun pilar-pilar masyarakat masa depan. Sangatlah penting untuk menyadari bahwa kerangka sosial-politik dan keagamaan suatu bangsa sangat memengaruhi arah perjalanan peradabannya. Sebuah negara dapat memulai era baru kehidupan bermasyarakat dengan menjadikan kegiatan membaca sebagai rutinitas serta bagian mendasar dari budaya sehari-hari.

Menurut Anis Baswedan (2026) zaman sekarang banyak orang yang memiliki kesenangan membaca tetapi tidak memiliki daya baca. Kesenangan membaca yang paling diminati adalah membaca WhatsApp bukan membaca buku-buku ilmu pengetahuan yang bermanfaat untuk meningkatkan kapasitas diri dan pengetahuan. Disini urgensinya membaca tidak sekedar memahami teks bacaan tetapi harus mampu menggali nilai-nilai actual fungsional dari hasil bacaan. Dalam dunia pendidikan saat ini sering kita dengar istilah deep reading (membaca mendalam). Membaca mendalam membutuhkan sikap focus yang melibatkan seluruh potensi intelektual. Deep reading adalah membaca dengan keterlibatan seluruh fungsi panca indera, hati dan kecerdasan akal yang dimiliki.

Kemampuan untuk fokus membaca sangat penting untuk pengembangan pribadi dan pemahaman orang lain. Maxine Greene (2007) mencatat dengan mencontohkan dengan ruang kelas dapat menumbuhkan “kapasitas untuk terhubung dengan individu lain, untuk memahami perspektif mereka, untuk mengenali upaya dan nilai dari manusia lain. Selain itu, filsuf dan mistikus Simone Weil (1951, 1973) mengamati bahwa empati terhadap orang lain, bersama dengan empati terhadap Tuhan, berakar pada perhatian (focus).

“Kapasitas untuk fokus membaca pada seseorang hampir seperti keajaiban yang terwujud dalam kesadaran penuh (mindfulness) sebagaimana yang dianjurkan Greene. Kemudian Jon Kabat-Zinn (1990) menyebutkankan bahwa kesadaran penuh adalah mengarahkan perhatian pada pengalaman setiap momen, baik di ruang kelas maupun diruang social yang lebih luas.

Dalam dunia pendidikan saat ini, mindfulness (kesadaran penuh) berperan sebagai sarana untuk meningkatkan fokus, sehingga mendukung proses pembelajaran dan mendorong metode pendidikan modern. Mindfulness dapat mendukung guru maupun siswa dengan cara meningkatkan dan memperkuat kesadaran diri, pengaturan diri, serta kemampuan untuk memahami kondisi emosional orang lain, sembari mendorong hubungan yang terstruktur dan seimbang secara emosional" (Bai, Scott & Donald, 2009).

Pada konteks kekinian, khusus dalam pengalaman sosial, aktifitas membaca memiliki tiga tingkatan bagi setiap orang, yaitu: Pertama, orang yang tidak berdaya (malas) dalam membaca buku. Kelompok ini adalah orang-orang yang merasa memahami sebuah bacaan ketika telah menghapal point-point tertentu dari sebuah bacaan. Mereka ini memandang, bahwa semua isi bacaan itu benar semua. Sehingga perlu dihapal. Jika diberi peringkat, kelompok ini adalah kelompok yang berada di level bawah. Kedua, orang yang menjadikan buku (bacaan) sebagai teman berpikirnya. Kelompok ini sudah mulai rajin membaca dan dapat memfilter dari sekian bacaan yang ada di hadapannya. Tidak lagi memandang bahwa bacaan ini benar semua. Ketiga, orang yang menjadikan buku (bacaan) sebagai lawan berpikir. Kelompok ini adalah kelompok kritis terhadap bacaan. Bagi mereka membaca sudah menjadi kebutuhan. Karena luasnya bacaan yang dimiliki oleh kelompok ini, maka mereka sudah bisa menyeleksi, bahkan mengoreksi dan mengembangkan isi dari sebuah bacaan (buku).

Membaca dapat mendorong pemahaman dan kesadaran yang mendalam. Hal ini sangat penting untuk mengembangkan prinsip-prinsip kesadaran penuh (mindful awareness) dan praktik kontemplatif dalam lingkungan pendidikan maupun sosial. Kesadaran penuh dalam membaca melahirkan membaca mendalam (deep reading) yang merupakan bagian dari konteks yang lebih luas mengenai refleksi dan aktivitas kontemplatif. Dengan menerapkan teknik membaca secara mendalam, seseorang dapat meningkatkan kemampuan yang esensial bagi pengembangan potensi diri.

Berikut ini langkah-langkah berbasis literasi untuk mendorong budaya membaca sebagai berikut:

Pertama, membaca sebagai konsep hidup

Membaca menduduki posisi yang sangat penting dalam konteks kehidupan umat manusia, terlebih pada era informasi dan komunikasi seperti sekarang ini. Membaca menjadi sebuah jembatan bagi siapa saja yang inginan meraih kemajuan dan kesuksesan, baik di lingkungan dunia pendidikan maupun di dunia pekerjaan. Oleh karena itu, para pakar sepakat bahwa kemahiran membaca (reading literacy) merupakan conditio sine quanon (prasyarat mutlak) bagi setiap insan atau masyarakat yang ingin mendapatkan prestasi gemilang.

Di sini membaca merupakan konsep hidup yang mengantarkan seseorng kepuncak makna kehidupan. Banyak diantara kita saat ini yang melupakan tujuan dan manfaat membaca bagi kehidupan kita. Dalam hidup ini, membaca adalah sebuah jendela terbuka yang dapat membuat seseorang bisa menelaah dan mengetahui segala sesuatu. Hasil membaca akan menjadi Ilmu dalam diri seseorang, dan ia akan menjadi pembeda dalam kehidupan dan lingkungan sosialnya. Seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan akan dihormati dan mendapat tempat istimewa di hadapan Allah dan sesama manusia (Al-Mujadalah Ayat 11). Ini merupakan salah satu dari bentuk penghormatan terhadap mereka-mereka yang berilmu (ulama). Karena itu, memiliki ilmu pengetahuan menjadi sebuah kewajiban dalam Islam. Tidak hanya untuk kepentingan kehidupan di dunia, tetapi juga di akhirat.

Davenport dan Beck (2001) serta Adelman (2014) berpendapat bahwa dalam pendidikan abad ke-21, perhatian menjadi terbatas, disebabkan focus membaca telah menurun. Studi dalam psikologi menunjukkan bahwa pikiran seseorang biasanya melayang setiap sekitar 30 detik (Kane dkk; 2007; Killingsworth & Gilbert, 2010), yang menyoroti pentingnya waktu dan perhatian yang terfokus membaca dalam lingkungan pendidikan dan pembelajaran di kelas.

Sebab itu saat ini, kita membutuhkan metode inovatif untuk meningkatkan pendidikan melalui deep reading untuk dapat beradaptasi dengan perubahan global yang yang penuh tantaangan.

Di sisi lain, membaca bukanlah proses tunggal sebagaimana yang selama ini banyak dipahami oleh masyarakat awam. Membaca merupakan sintesis dari berbagai proses yang kemudian berakumulasi menjadi suatu perbuatan literatif. Hal ini berarti bahwa kita harus memandang membaca sebagai suatu pengalaman yang aktif, yakni suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar, bertujuan, memiliki pemahaman, yang mana pemaknaannya akan ditentukan oleh sejumlah pengalaman si pembaca. Dengan demikian membaca akan menghadirkan makna hidup (the meaning of life) yang sangat berarti bagi manusia.

Kedua, menumbuhkan kembali minat baca

Menumbuhkan minat baca merupakan hal yang sangat penting. Dampak teknologi telah mengubah perilaku manusia dari membaca menjadi menonton; kini, seseorang dapat memahami suatu topik hanya dengan menyaksikan tayangan tutorial, tanpa perlu meluangkan waktu untuk membaca buku-buku yang tebal. Meskipun teknologi telah menghadirkan cara hidup yang cepat dan efisien, di sisi lain, hal ini dapat menghambat kreativitas dan daya imajinasi yang berkaitan dengan kegiatan membaca.

Dalam pandangan Islam, membaca merupakan upaya universal yang menjadi sarana untuk meraih pemahaman. Allah (SWT) menganugerahkan ilmu kepada siapa saja yang membaca, termasuk mereka yang tidak beriman kepada-Nya. Hal ini sangat relevan bagi umat Islam, yang merupakan penerima awal wahyu pertama. Membaca adalah sarana untuk menggapai pemahaman. Seseorang yang berilmu disebut sebagai ‘alim’ (cendekiawan), karena melalui ilmu, derajat mereka ditinggikan di sisi Allah, swt (Qs.Al-Mujadalah;11).

Oleh karena itu, siapa pun yang ingin memperoleh ilmu harus berusaha keras untuk mendapatkannya serta meningkatkan pemahaman mereka melalui aktifitas membaca.

Menurut survei yang dilakukan oleh UNESCO, tingkat minat baca di Indonesia sangat rendah; negara ini menempati peringkat ke-38 dari 39 negara yang diteliti, dengan indeks membaca hanya sebesar 0,0001—angka yang jauh lebih rendah dibandingkan negara lain seperti Singapura yang memiliki indeks 0,55. Di kawasan ASEAN, posisi Indonesia tergolong lemah karena tertinggal di belakang Thailand, Filipina, Malaysia, Brunei, dan Singapura. Selain itu, studi terkait Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada tahun 2018 menempatkan Indonesia di peringkat ke-111 dari 173 negara yang dinilai berdasarkan tingkat literasi dan minat baca.

Minat baca yang rendah sangat memengaruhi kualitas suatu negara secara keseluruhan. Mereka yang tidak memiliki kebiasaan membaca akan kehilangan kekayaan pengetahuan yang berharga serta tertinggal dalam mengikuti pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kondisi ini berisiko menyebabkan negara tersebut tertinggal dan terisolasi dari komunitas global. Oleh karena itu, menumbuhkan minat baca sejak dini sangatlah penting agar dapat mengimbangi pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta mencegah ketertinggalan dari negara-negara maju.

Dalam sebuah kesempatan Prof. Leo fay (1980) mantan presiden IRA (International Reading Asociation) pernah meyakinkan para koleganya dengan sebuah kalimat yang berbunyi, “To read is to possess a power for transcending whatever physical human can muster” (membaca berarti memiliki kekuatan untuk melampaui batas kemampuan fisik manusia mana pun).

Kemudian Hartoonian, salah seorang politikus AS, saat dia diwawancarai oleh seorang wartawan, apa yang harus dilakukan bangsa Amerika untuk mempertahankan supremasinya sebagai negara adidaya yang disegani oleh bangsa-bangsa lain di kolong langit ini, ia menjawab, If me want to be a super power we must have individuals with much higher levels of literacy (jika kita ingin menjadi negara adidaya, kita harus memiliki individu-individu dengan tingkat literasi membaca yang jauh lebih tinggi).

Belakangan ini, para ekonom memprediksi bahwa perekonomian masa depan akan bertumpu pada upaya-upaya yang didasarkan pada aset khas manusia: kemampuan menalar. Kemampuan menalar ini merupakan sarana utama manusia untuk berkreasi dan beradaptasi, yang memungkinkan mereka untuk berkembang pesat di tengah teknologi yang kian kompleks dan berubah dengan cepat. Intelektual manusia mencapai kapasitas tertingginya hanya ketika diasah melalui membaca. Tentu saja, sebagaimana dicatat oleh Farr (1984), membaca merupakan inti dari hakikat pendidikan (reading is the heart of education).

Untuk menjadi pribadi yang berwawasan luas dan cerdas, seseorang harus gemar membaca dan menjadi orang pembaca (becoming a reader). Menumbuhkan kegemaran membaca menjadi tolok ukur bagi perkembangan masyarakat modern dan maju. Ketertarikan pada aktifitas membaca secara alami pada akhirnya akan memunculkan ketertarikan pada kegiatan menulis - akan kita jelaskan pada artikel mendatang.

Ketiga, membaca sebagai ibadah fungsional

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu, begitu surat pertama (Qs.Al-Alaq) diturunkan Allah swt ke bumi. Mafhum ayat ini, Allah menjelaskan bahwa membaca dalam Islam bukan sekedar aktifitas psikologis tetapi juga menjadi kegiatan psiko-religius untuk mengingat Allah swt (zikir) dengan menyebut nama-Nya. Mengingat Allah dalam kondisi apapun termasuk dalam aktifitas membaca bernilai ibadah.

Ibadah melambangkan sikap tunduk atau merendahkan diri. Dalam pandangan ‘syara’, ibadah merupakan suatu keta’atan yang dilakukan sesuai perintah-Nya, merendahkan diri kepada Allah SWT dengan kecintaan yang sangat tinggi dan mencakup atas segala apa yang Allah ridhai baik yang berupa ucapan maupun perbuatan yang dhahir ataupun batin. Ibadah merupakan penghambaan seorang kepada Allah untuk dapat mendekatkan diri kepada-Nya sebagai realisasi dari pelaksanaan tugas hidup sebagai makhluk yang diciptakan Allah SWT.

Secara (etimologis) ibadah berasal dari bahasa Arab dengan asal kata ‘abada, ya’budu, ‘abdan, fahuwa ‘aabidun. ‘Abid, berarti hamba atau budak, yakni seseorang yang tidak memiliki apa-apa, harta, dirinya sendiri milik tuannya, sehingga karenanya seluruh aktifitas hidup hamba hanya untuk memperoleh keridhoan tuannya dan menghindarkan murkanya.

Ibadah dalam Islam bukan hanya dipahami sebagai tuntutan ritual namun sebagai cara dan upaya untuk menanamkan nilai ketauhidan, kedisiplinan, pengendalian diri, serta pembiasaan sikap yang selaras dengan ajaran Islam. Melalui ibadah, manusia dibimbing untuk membangun ikatan yang kuat dengan Allah sekaligus membentuk karakter yang luhur.

Amir Hamzah Lubis menegaskan bahwa nilai keimanan harus ditanamkan secara berkelanjutan agar fitrah manusia tetap terjaga dan berkembang secara benar dalam bingkai ajaran Al-Qur’an (Lubis, 2016). Dengan demikian, ibadah mempunyai posisi strategis dalam mewujudkan karakter atau akhlak Qur’ani sebagai tujuan utama pendidikan Islam.

Ibadah merupakan tindakan pengabdian seorang hamba kepada Tuhannya yang dilakukan dengan kerendahan hati yang mendalam dan niat yang tulus, serta selaras dengan tata cara yang ditetapkan oleh agama (Suyono, 1998). Oleh sebab itu, ibadah menjadi aspek fundamental dalam agama.

Dalam Islam, pelaksanaan ibadah tidak boleh menyebabkan terabaikannya tanggung jawab terkait kebutuhan duniawi; setiap orang dituntut untuk bekerja keras guna memenuhi kebutuhan pokoknya serta berinteraksi dan bekerja sama dengan sesama, mengingat tidak ada seorang pun yang dapat bertahan hidup tanpa dukungan orang lain. Sebab itu membaca akan menjadi ibadah fungsional yang dapat berfungsi apabila seseorang menemukan fungsi terdalam dari membaca yaitu menjadi sarana proses penyatuan jiwa dan pikiran dalam diri manusia untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Keempat, membaca gerbang peradaban bangsa

Memasuki abad ke-21 kesadaran masyarakat dunia akan pentingnya membaca dan menulis menjadi sangat kuat. Membaca dan menulis merupakan dasar suatu SDM dapat dibangun. Kemajuan suatu bangsa tidak dapat dipisahkan dengan kualitas SDM yang dimiliki bangsa itu. Setiap individu yang lahir di dunia ini pasti memiliki kemampuannya masing-masing. Untuk mengasah kemampuan tersebut, setiap anak harus diajarkan membaca dan menulis sejak usia dini guna membangun landasan bagi masa depan mereka—dan, pada gilirannya, melindungi masa depan bangsa dari kemerosotan sosial.

Sayangnya, minat baca dan tulis di Indonesia masih rendah. Kita semua memikul tanggung jawab untuk menumbuhkan pemahaman mengenai peran penting membaca dalam budaya bangsa. Bangsa yang tangguh adalah bangsa yang mandiri di segala bidang—baik dalam pertahanan, keamanan, ekonomi, maupun aspek sosial.

Budaya membaca sangat membantu proses perkembangan kualitas ilmu pengetahuan masyarakat. Bangsa yang berkebudayaan tinggi budaya membaca pun akan tinggi pula. Budaya membaca sangat membantu dalam berinteraksi sosial antar-individu maupun dalam kelompok masyarakat, hal ini dapat memperlancar hubungan kerjasama dalam menyelesaikan sebuah persoalan bangsa, termasuk diplomasi dalam menyelesaikan sengketa antar-bangsa.

Membaca menghasilkan wawasan baru dan kemajuan teknologi. Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi ini pada akhirnya melahirkan peradaban dunia yang baru. Membaca menjadi akses utama untuk memperoleh pengetahuan, yang merupakan sumber daya esensial bagi pembangunan bangsa (Munawir AM, 2017). Kemajuan ilmu pengatahuan berdampak kepada kemajuan teknologi. Demikianpula kemajuan peradaban umat manusia dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Budaya membaca harus ditumbuhkan dalam diri setiap individu di masyarakat. Membaca bukan sekadar keterampilan untuk mengekspresikan diri atau memenuhi kebutuhan hidup; tetapi merupakan sarana penting yang memungkinkan individu memanfaatkan teknologi, berpikir kritis, dan tetap peka terhadap lingkungan sekitar. Dalam konteks ini, membaca menjadi jalan menuju budaya era pengetahuan modern.

Dalam buku Literacy: Profile of America’s Young Adult, Kirsch dan Jungeblut menggambarkan membaca merupakan cara memperluas wawasan, yang pada akhirnya memberikan manfaat bagi diri dan masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat yang memiliki budaya membaca yang kuat memegang peranan krusial dalam pembangunan serta upaya mengangkat bangsa itu dari kemunduran dan ketertinggalan daya saing dibandingkan bangsa-bangsa lain.

Mencapai kemajuan suatu bangsa memerlukan keterlibatan sumber daya manusia yang terampil. Generasi muda perlu dibina untuk mewujudkan potensi ini, sehingga menjamin keberhasilan kemajuan bangsa itu sendiri. Generasi muda yang mampu terlibat aktif adalah tipikal individu yang memiliki pengetahuan komprehensif dan terkini, serta menunjukkan kreativitas, inovasi, dan kemampuan berpikir kritis. Dengan demikian, mereka memiliki potensi untuk memberikan kontribusi signifikan terhadap pembangunan bangsa yang maju dan modern. ***

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin

LINK TERKAIT