Quantum Kesadaran: Membuka Cakrawala Batin di Hati

Quantum Kesadaran: Membuka Cakrawala Batin di Hati

Oleh: Dr. H. Muhammad Nasir, S.Ag., M.H., Kakan Kemenag Anambas

“Katakanlah: ‘Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing.” Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.(Qs.Al-Isra’ ; 84).

“Mengenal dirimu sendiri adalah awal dari semua kebijaksanaan.” (Aristoteles)

Istilah Quantum Kesadaran jarang ditemukan dalam teks-teks keagamaan. Dalam literatur Islam, frasa ini dikenal sebagai judul buku karya Murtadha Muthahhari (1999), dengan terjemahan oleh Muhammad Babul Ulum, Lc.

Sejak publikasinya, istilah yang berasal dari judul "Falasafatul Akhlak" telah mendapatkan pengakuan yang signifikan di kalangan umat Muslim. Judul yang disajikan di atas menandakan pemahaman dialogis tentang kerangka logis mengenai hubungan atau keterkaitan antara prinsip-prinsip spiritualitas penciptaan di alam semesta (universal spirituality). Nilai-nilai spiritual yang dibahas adalah keyakinan kesadaran yang berasal dari iman yang mendalam di dalam hati manusia.

Dalam Kamus Latin-Indonesia (KLI), istilah Quantum berasal dari bahasa Latin “quantus,” yang berarti “seberapa banyak” atau tak terhingga (K.Prent, J.disubrata, 1969). Sesuatu yang tak terhingga tidak dapat didefinisikan. Istilah ini dikenal luas sebelum tahun 1900 M. Istilah ini sering ditemui dalam konteks kesehatan, seperti yang diilustrasikan oleh ungkapan quantum satis (kepuasan kuantum). Dalam mekanika, istilah komputer kuantum juga ada. Konsep ini sering disebut bunuh diri kuantum, sebuah eksperimen pemikiran yang bertujuan untuk membedakan pengalaman subjektif bertahan hidup dari bunuh diri kuantum, sambil mengabaikan kemungkinan atau kelayakannya. (Max Tegmark; 1998).

Sudut pandang ini menunjukkan bahwa individu memiliki sumber daya yang tak terbatas untuk mempertahankan hidup mereka melalui kekuatan spiritual (dipahami sebagai Iman) yang ada di dalam diri mereka. Hal ini sejalan dengan maksud di balik penciptaan alam semesta sebagai amanah dari Tuhan. Jelaslah, istilah Quantum Kesadaran dalam artikel ini merujuk pada interpretasi rasional untuk memahami energi spiritual di dalam individu (hati mereka) dan di luar individu (alam semesta).

Saat menelaah buku The Divine Matrix karya Gregg Braden (2018), seorang penulis terlaris New York Times yang banyak meneliti peran spiritualitas dalam tehnologi, dalam penelitiannya ditemukan bahwa terdapat hubungan erat antara penciptaan alam dengan diri manusia. Analisis ini dilakukan melalui pendekatan teori interpretasi fisika Quantum. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa alam semesta di ciptakan merupakan sebagai satu system Tunggal yang terkoneksi dalam cara-cara yang tidak kasat mata (visible).

Dari konsep tersebut penulis berasumsi bahwa manusia mampu menciptakan dan mengelola suasana alam bathin melalui energi Quantum Kesadaran. Quantum Kesadaran adalah sebuah kesadaran baru yang timbul dalam hati nurani manusia yang terdalam akibat perkembangan dan kekuatan spiritual yang membuka mata batin seseorang. Kesadaran baru tersebut penulis sebut sebagai cakrawala bathin (inner horizon). Melalui cakrawala bathin tersebut manusia dapat menemukan kesadarannya yang hilang atau lemah dalam kosmik raksasa (cosmic giant) yang tanpa batas yaitu hati manusia.

Dalam pandangan ini quantum kesadaran menjadi energi lompatan yang dapat melampaui batas yang menggugah kesadaran. Disini hati manusia sebagai wadah sekaligus jembatan dan cermin dari segala sesuatu yang terjadi di luar dan di dalam diri manusia. Hal ini juga dapat disebut sebagai kesadaran quantum. Kesadaran quantum dapat membangun medan energi yang dapat ditemukan di seluruh entitas, mulai dari partikel atom kuantum terkecil sampai galaksi-galaksi yang cahayanya baru kita lihat saat ini.

Jika selama ini cakrawala batin (inner horizon) manusia terlalu sempit sehingga tidak dapat menampung realitas tertinggi (kebenaran Tuhan) disebabkan oleh pintu hati tertup dari kesadaran Ilahi. Manusia yang memiliki hati yang tertutup (closed heart) akan berperilaku liar dan menyimpang. Keseimbangan diri akan hilang akibat keyakinan iman yang dimiliki di himpit oleh kebodohannya sendiri. Mereka tidak percaya diri dengan keberadaannya sebagai makhluk ciptaan Tuhan terbaik. Akibatnya cahaya matahari hatinya gelap dan sulit menemukan kesadaran yang hakiki.

Oleh sebab itu, beberapa transformasi gagasan Kesadaran Quantum yang dapat membuka cakrawala batin (inner horizon) di hati manusia dapat dijelaskan sebagai berikut;

Pertama: Quantum Pertolongan Ilahi.
Mendahulukan pertolongan Allah swt dari yang lainnya dalam setiap aktifitas hidup (Wamaa taufiiqillah billah,’alaihi tawakaltu wa ilaihi unib.’(Qs.11:88), merupakan kekuatan spiritual yang yang tak terbatas dan wajib diutamakan. Di sini aktifitas bathin manusia terjadi tanpa batas. Ia adalah awal dari seluruh aktifitas fisik. Sebelum melakukan aktifitas fisik manusia harus terlebih dahulu dibimbing dengan kesadaran kuantum bahwa tidak ada satu pretasipun yang hadir tanpa pertolongan-Nya. Semua harus disandarkan pada-Nya sejak awal hingga akhir. Sebab itu islam menganjurkan agar manusia segera kembali kepada kesadaran awal kehidupannya.

Kesadaran awal kehidupan manusia bisa hilang dan bisa tidak. Tergantung cara manusia itu menggunakan wadah bathinnya. Menyadari diri manusia lemah di hadapan Allah bukan berarti menjadi tak berdaya. Karena dibalik kelemahan itu terdapat energi kekuatan spiritual yang mampu membangun realitas di bumi. Jelasnya kesadaran akan kekuatan al-haq akan hadir jika manusia menyadari akan kelemahannya. Karena tidak ada suatu kesuksesanpun yang di dalamnya tidak ada campur tangan Allah swt. Sadarilah, bahwa dalam apa yang kita perjuangkan akan ada pendukung dan juga penentang.

Tumbuhnya kesadara spiritual dalam hati, seperti perkembangan tanaman. Pada awalnya kita tertanam dalam kegelapan. Mungkin kita termasuk ke dalam orang-orang yang belum tahu akan mampu hidup atau tidak. Ketika benih iman (spiritual) menyeruak dalam hati, kita mulai tersadar bahwa kita telah lama terkubur dalam kebodohan, kemaksiatan dan tabiat buruk. Sebagaimana biji menggeliat, setelah terkena tetesan air hujan. Dalam hal ini Nabi saw mengisyaratkan proses ini sebagai masuknya hidayah dalam hati kita,”Perumpamaan hidayah dan ilmu yang diperintahkan oleh Allah swt kepadaku untuk menyampaikannya, sama dengan hujan yang turun ke bumi”(HR.Muttafqn Alaih).

Dan saat proses ini, kita dihadapkan pada kenyataan beratnya mengubah tabi’at, yang membuat hati ini keras bagaikan kerasnya permukaan tanah.

Hanya dengan kesungguhan dan Rahmat-Nyalah kita mampu menerobos dan tumbuh dalam alam terang benderang. Di mana secara perlahan tapi pasti merasakan perbedaan-perbedaan dalam perilaku, antar sebelum dan sesudah memperoleh hidayah. Meskipun pada kondisi ini, kita justru membutuhkan cahaya matahari dan pemeliharaan lebih. Sebab masih sangat rentan terhadap gangguan. Baik dalam dirinya lebih-lebih dari luar dirinya. Ketika itu kita adalah tunas yang sedang mencoba tumbuh berkembang di pelataran kehidupan. Kita musti pasrah pada apa saja yang terjadi meskipun terancam oleh injakan kaki-kaki keangkuhan (M.Abie Mumtaz;2007).

Kesadaran ini menjelaskan bahwa manusia dalam situasi dan kondisi manapun tetap bersandar kepada Allah swt sepanjang upaya untuk mewujudkan cita-cita dan prestasi kesuksesan dalam bidang apapun. Begitupun para Nabi dan Rasul beserta orang-orang saleh, telah membuktikan hal ini ketika menjalankan misi kehidupannya.

Menurut pandangan ini alam dan manusia selalu terkoneksi dalam kehidupan semesta. Di sinilah manusia semuanya menjadi bagian dari hologram agung bersama pencipta yang merupakan diri setiap peribadi dengan ungkapan; “kosmik yang tiada apapun selain Engkau” (Itzhak Bentov (1923-1979). Di sini kita dapat melihat dunia dalam sebutir pasir, dan surga di setangkai bunga. Untuk itu genggamlah ketakterbatasan di telapak tanganmu dan keabadian dalam sekejab, begitu ungkapan William Blake (1757-1827), seorang ilmuan terkemuka dan pujangga visioner.

Quantum akhlak dan empati, suatu kesatuan quantum yang dapat mengungkap misteri eksperimen-eksperimen quantum yang tak bisa di pecahkan. Akhlak yang berasal dari khuluq (pencipta) itu menyatu dalam kesadaran kosmik yang maha luas. Orang yang sampai ketaraf ini tidak lagi terpengaruh oleh symbol-simbol kehidupan. Hal ini di ciptakan Allah SWT untuk mengukur kesadaran manusia (QS. 42;27). Dari situ terciptalah ironi, dimana dalam satu waktu yang sama, bisa jadi ada dua kejadian yang saling berlawanan. Di satu tempat orang ramai mangungsi dan mengantrian makanan, tapi dilain tempat ada orang yang berbondong-bondong memborong makanan.

Di bagian kosmik yang lain terjadi perang dan pada kosmik yang lain terjadi perdamaian. Di sisi lain banyak orang yang berbuat masiat dan disisi lainnya banyak pula yang berbuat keta’atan Kondisi ini pada hakikatnya satu kesatuan peristiwa yang diciptakan untuk mengukur kesadaran manusia.

Dengan demikian Quantum Kesadaran sebagai proses revolusi kesadaran tertinggi hanyalah melalui pertolongan Allah, ia menjadi energi untuk mendapatkan hidayah dan ilmu serta penguatan akhlak dan empati sebagai nilai tertinggi dalam diri manusia. Demikianlah quantum kesadaran diharapkan dapat berfungsi sebagai pembuka cakrawala bathin di hati yang menjelaskan keterhubungan penciptaan manusia dan alam dunia ini. Semoga kita menjadi manusia modern yang memiliki kesadaran quantum dalam kehidupan dunia kontemporer yang sedang kita jalani.

#Umum
SHARE :
Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin

Berita Terpopuler
LINK TERKAIT