Jawahirul Ramadhan
Oleh: Dr. H. Muhammad Nasir, S.Ag., M.H., Kakan Kemenag Anambas
Rasulullah SAW mengatakan, “Seandainya umat manusia mengetahui pahala ibadah di bulan ramadhan, maka niscaya mereka akan meminta agar satu tahun penuh menjadi ramadhan.” (HR. Tabrani, Ibnu Khuzaimah dan Baihaqi).Istilah 'Jawahirul' biasanya merujuk pada berbagai kitab kuning terkenal (teks Islam klasik), seperti Jawahirul Kalamiyah (dasar monoteisme Ash'ariyah) yang ditulis oleh Syekh Thahir bin Sholeh Al-Jazairi. Kata ini berarti "permata" dan muncul dalam beberapa judul buku, seperti Jawahirul Ma'ani (manaqib Syekh Abdul Qadir Jailani) dan Jawahirul Bukhari.Frasa ini berasal dari bahasa Arab Al-Jawahir (bentuk jamak dari al-jauhar), yang artinya permata-permata, batu-batu mulia, atau inti substansi. Dalam konteks sastra atau kajian Islam, kata ini sering disandingkan dengan makna keindahan dan nilai sesuatu yang memiliki keutamaan yang tak tertandingi. Dalam artikel ini, penulis menyandingkan istilah Jawahirul dengan Ramadhan. Dengan demikian, judul di atas dimaknai dengan daya tarik keindahan Ramadhan bagi orang-orang yang beriman.Ramadhan adalah bulan yang istimewa, bulan yang menghubungkan hubungan komunikatif antara orang-orang yang beribadah dan Tuhannya. Bulan ini disiapkan Allah SWT untuk menghidupkan nurani dan menyegarkan jiwa melalui perintah puasa. Orang-orang beriman secara khusus dipanggil oleh Allah untuk berpuasa sebagai benteng diri dari godaan hawa nafsu. Selama Ramadhan, iman berfungsi sebagai dasar sentral, menawarkan respons mendasar untuk memahami dan merasakan kehadiran Allah dalam hidup. Selama bulan Ramadhan, kita harus menunjukkan iman kita, suatu perasaan yang hanya dapat dipahami oleh hati yang tawaddhu’ (qalbun salim).Disamping itu di bulan Ramadhan terjadi peristiwa-peristiwa gaib yang sangat menentukan kemaslahatan hidup manusia. Perirstiwa ini adalah turunnya AlQur'an di malam qadhar yang menjadi pedoman dan petunjuk kehidupan manusia. Al-Qadar berati ketentuan Tuhan yang berkaitan dengan hidup atau mati, suka dan tidak suka, sehat dan sakit.Dalam surat Ad-Dukhan 3-4, Allah berfirman; “Sesungguhnya kami turunkan Al-Quran pada malam yang diberkati. Sesungguhnya Kami selalu memberikan peringatan. Di malam itulah diatur segala urusan yang bijaksana (penuh hikmah).”(QS.Ad-Dukhan;3-4).Di malam Qadar para malaikat turun ke bumi untuk menuliskan takdir manusia untuk tahun berikutnya. Di malam Qadar kita dianjurkan untuk banyak beribadah dan berdoa agar di malam itu takdir kita ditulis dengan takdir yang baik. Peristiwa dimalam itu wajib diyakini dengan dasar iman yang kuat, karena peristiwa gaib yang terjadi dimalam qadar adalah peristiwa yang menguji kadar keimanan di dalam dada manusia.Iman adalah potensi yang melekat pada manusia. Dalam hal ini Allah menjelaskan: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu menjadikan keturunan bani Adam dan tulang sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian atas diri mereka:”Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab, “Benar kami menjadi saksi,”Yang demikian itu supaya kamu tidak mengatakan di hari kiyamat”Sesungguhnya kami orang-orang yang lalai tentang itu.”(QS.7:172).Dalam Tafsir al-Wajiz, Syekh Wahbah al-Zuhaili berkomentar ingatlah bahwa ketika Tuhanmu telah mengeluarkan dari sulbi anak-anak adam keluarga mereka, dan mereka berada di dalam alam dzar. Kemudian diambil janjinya untuk berikrar tentang keberadaan Allah dan ke-Esaan-Nya. Tujuan pengambilan janji terebut adalah bahwa Allah menciptakan manusia, serta untuk mencapai kebenaran dan mengenali pencipta alam semesta. Mereka dipersaksikan dan diambil janji setia dihadapan Tuhannya: “Bukankah aku Tuhanmu?.Mereka menjawab: “Ya, kami bersaksi bahwa Engkau adalah Tuhan kami yang layak disembah. Ini untuk mencegah agar di hari kiamat mereka yang telah diambil sumpahnya tidak mengatakan: tidak ada yang memperingatkan kami kejalan-Mu dan kami tidak tahu bahwa Engkau adalah Tuhan kami. (al-Wajiz, juz7,hlm.174). Peristiwa itu terjadi pada “alam alastu”, yaitu alam penyaksian ketika manusia ditiupkan ruh untuk kemudian dilahirkan ke dunia.Di bulan Ramadhan pada prinsipnya kita sedang melakukan napak tilas mengenal kembali “alam alastu” untuk mengarahkan diri kembali kepada esensi diri yang sebenarnya, sebagai makhluk ruhani yang telah bersaksi dan diberi potensi ber-Tuhan. Sebab itu panggilan iman dalam bulan Ramadhan adalah panggilan terhadap esensi ke-manusiaan kita.Ketika kita memasuki bulan Ramadhan, ketika itu pula iman menuntut kepasrahan lahir dan bathin secara penuh (kaffah) berpihak kepada kehendak Allah SWT. Sebab itu jika seseorang melakukan puasa atapun ibadah lain di bulan Ramadhan, tetapi masih melanggar kehendak Allah SWT, ia tidak termasuk dalam golongan mukminin yang pasrah. Apalah arti puasa, sholat dan ibadah lainnya, bila perilaku kita bertentangan dengan kehendak Allah dan segala peraturan-Nya.Jadi, sekali lagi kita tegaskan bahwa Ramadhan merupakan bulan mengenal kembali “alam alastu”. Sebab itu diwajibkan orang beriman berpuasa agar mengenal kembali dirinya yang sejati. Di alam alastu hawa nafsu tidak berfungsi, ia telah dikendalikan oleh puasa. Di luar Ramadhan Nurani yang tadinya cemerlang telah tergores oleh tumpukan dosa dan kedurhakaan. Untuk mengembalikan kejernihan Nurani itu orang beriman wajib tunduk kepada kehendak Allah selama Ramadhan.Sebab itu kita wajib menegetahui hakikat puasa yang sebenarnya, agar puasa yang dilakukan tidak sekedar menahan lapar, haus dan seksual.Beberapa hal yang dapat penulis jelaskan agar Ramadhan menjadi mutiara yang indah dan Istimewa sebagai berikut;Pertama: Menemukan Hakikat PuasaDalam Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim Rasulullah saw, menjelaskan:”Semua amal anak Adam dilipatgandakan. Kebaikan dilipatgandakan sepuluh sampai seratus kali, kecuali puasa kata Tuhan. Puasa untuk-Ku, dan Aku yang akan memberikan pahalanya. Orang-orang yang berpuasa meninggalkan keinginannya dan makanannya hanya karena Aku. Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan, kebahagiaan ketika ia berbuka dan kebahagiaan ketika ia berjumpa dengan Tuhannya. (HR. Bukhari Muslim).Dalam hadits diatas, Nabi menjelaskan bahwa hakikat puasa adalah meninggalkan keinginan untuk menjalankan perintah Allah SWT menanggalkan kehendak diri dan menjalankan kehendak Ilahi. Menurut Seyyed Hossein Nasr, dalam Ramadhan: Motivating Believers to action; An Interfaith Persfektive, yang dikutip oleh Bakhtiar, dalam Jalaluddin Rahmat (2004), menulis tentang puasa dengan sangat menyentuh,”Aspek paling sulit dari puasa adalah ujung pedang pengendalian diri yang di arahkan pada jiwa hewani. ”the cornal soul, al-nafs al-ammarah. Dalam melakukan puasa, kecenderungan jiwa hewani untuk memberontak perlahan-lahan dijinakan dan ditenangkan melalui penaklukan kecenderungan ini secara sistematis pada kehendak Ilahi.Meniadakan kehendak diri dengan menenggelamkan diri pada Yang Maha Ada (Allah SWT) merupakan hakikat puasa. Sebelum sampai ke sini, seorang muslim harus menjalankan tarekat puasa (Jalaluddin Rahmat;2004). Tarekat puasa dilakukan dengan mengendalikan semua alat Indera yang lahir dan bathin dari melakukan hal yang tidak dikehendaki Allah SWT. Ia tidak saja mengendalikan mulutnya dari menyebarkan gosip, makian, dan lainnya tetapi juga ia mengendalikan daya khayalnya dari rencana jahat atau niat buruk. Ia tidak saja menutup mata lahirnya, dari pandangan yang dilarang Allah SWT, tetapi juga menutup daya pikirannya dari melakukan kelicikan, pengkhianatan, dan penyelewengan.Melalui tarekat puasa kita megendalikan indera batiniyah atau mengatur persepsi spiritual kita. Sabda Rasulullah SAW: ”Syariat itu ucapanku, tarekat perbuatanku, dan hakikat keadaanku.”. Kita berusaha menjadi atau mencontoh perilaku puasa Nabi SAW. Ketika kita mengalami apa yang dialami Nabi, ketika tabir yang menutupi mata kita terangkat, di situlah kita memasuki ranah kebenaran (wilayah hakikat). Ketika itu puasa yang mengendalikan Indera-indera bathiniyah kita seperti pikiran, ingatan, khayalan, rasa, dan Indera yang menggabungkan semuanya, telah terkendali dengan baik.Kedua: Ramadhan Bulan Pembersih DiriDiwajibkan berpuasa di bulan Ramadhan bertujuan untuk membersihkan diri dari tumpukan dosa akibat godaan nafsu. Dalam diri manusia tersembunyi nafsu kebinatangan yang sangat buas. Dia bisa memangsa apa dan siapa saja yang dikehendakinya, takobahnya seperti ular naga yang sangat berbahaya. Ular naga itu berupa nafsu serakah yang menghancurkan diri kita.Dalam hal ini seorang penyair Burdah memperingatkan, ”Dan ketahuilah bahwa nafsu seperti bayi, jika kamu biarkan, dia sangat bergairah untuk menyusu, tapi kalau kamu menyapinya, ia akan berhenti, ”Mampukah kita mengendalikan binatang buas yang telah terlepas dari talinya itu? Insya Allah, mampu; dengan satu syarat, Kita bersihkan diri kita melalui puasa sebagai pengendalinya. Di bulan Ramadhan kita mengendalikan Binatang buas itu dengan berpuasa di siang hari.Manusia sejatinya dapat menjadi binatang buas dan bisa menjadi malaikat. Ketika nafsu yang menjadi kenderaan hidup, ketika itu kita sedang menjadi binatang buas. Kita menjadi malaikat, ketika diri kita telah suci bersih dari dosa, ketika itu nurani kita akan menjadi tajam dan dapat mengetahui hal-hal di luar jangkauan akal. Seperti Nabi Yusuf AS, yang berhasil mengendalikan dirinya dengan menepis godaan Zulaikha. Tuhan menganugerahkan kepadanya bukan hanya kenabian, melainkan juga kemampuan memahami takwil mimpi. Pandangannya melewati batas-batas dunia lahir dan menembus jauh kedalam bathin.Hamparan Tuhan yang mulia hanya layak untuk orang yang telah membersihkan lahiriyah dan batiniyahnya dari berbagai penyimpangan dan dosa. Lalu mengisi batinnya dengan penyaksian. Lahiriyahnya memakai busana ubudiyah, sementara batinnya diterangi cahaya rububiyah. Ia telah memberikan hak untuk bersama-Nya, menjaga adab yang baik kepada-Nya, disertai kesadaran bahwa dirinya adalah hamba, sementara Dia adalah Tuhannya. Lahiriyahnya disibukan oleh syariat, sementara bathiniyahnya disibukan oleh adab tarekat, dan jiwanya diterangi cahaya hakikat. Ia melangkah meraih perbendaharaan Alah SWT dan kemudian memasuki kemuliaan Muhammad Rasulullah SAW. Dengan puasa jiwa cemerlang dan berkilau karena seluruh bathinnya telah diisi dengan kemuliyaan yang melimpah. Kondisi (hal) ruhaninya telah terisi dengan limpahan kegaiban seperti cawan yang berisi cahaya. Cahaya itu memantulkan sinar terang yang menerangi jalan hidupnya.Pada suatu hari Nabi Muhammad SAW menemukan dan ikut menikmati pertandingan gulat diantara anak-anak muda di Madinah. Beliau memberikan apresiasi kepada pelaku olahraga yang keras ini. Setelah itu, beliau barsabda;”Orang yang hebat itu bukanlah orang yang dengan mudah membantingkan kawannya, Orang kuat adalah orang yang mampu menguasai nafsunya ketika ia marah”. Orang yang kuat itu adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika hatinya sudah bersih akibat puasa yang dilakukan.Ketiga: Ramadhan Istana Kekasih AllahTentu saja, setiap orang mendambakan tinggal di istana yang megah. Istana dalam artikel ini dimaknai dengan kebahagiaan. Secara umum, orang percaya bahwa mereka yang berada di istana sangat bahagia, meskipun tidak semua orang menemukan kebahagiaan di sana. Hanya mereka yang mencintai Allah yang dapat mengubah Ramadan menjadi istana. Mereka adalah kekasih Allah yang hati nuraninya bebas dari godaan dunia dan segala konsekuensinya. Di dalam hatinya, hanya ada keinginan untuk mendapatkan ridha Allah, cinta, dan pengabdian yang tulus hanya kepada-Nya; semua godaan dunia dan segala isinya telah lenyap dari jiwanya. Hati nurani mereka dipenuhi dengan cinta kepada Allah, ketulusan, dan permohonan pertolongan dan perlindungan dari-Nya.Kekasih Allah bukanlah orang yang tidak pernah berdosa dan mendapatkan godaan. Kekasih Allah adalah ia yang berhasil melawan godaan dan membersihkan dosa-dosanya lalu mengisi jiwanya dengan amal-amal saleh. Ia yang berhasil mengendalikan hawa nafsunya dengan kekuatan imannya. Mereka adalah orang yang telah mengenal Allah dan dirinya. Takwa menjadi kendraan hidupnya dan iman sebagai pedoman hidupnya.Kekuatan iman harus ditopang dengan ilmu dan ma’rifat. Karena iman bersifat abstrak, maka penilaiannya dapat dilakukan dan diketahui melalui sikap dan perbuatan seseorang sehingga tinggi rendahnya derajat seseorang akan tercermin dalam amal nyata. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah Hadits Nabi saw: “Iman ialah mengenal dengan hati, mengucap dengan lidah dan mempraktekkan dalam keghidupan sehari-hari.”(HR. Ibnu Majah)Berdasarkan Hadits di atas jelaslah bahwa iman adalah keyakinan, ucapan dan perbuatan sekaligus. Apabila salah satu dari tiga unsur tersebut tidak terpenuhi maka iman seseorang belum sempurna. Dari pandangan ini iman dan Ramadhan satu paket tarekat menuju ketenangan bathin. Menurut Najati (2022), ketenangan hati, ketenteraman jiwa akan didapat jika manusia memiliki keimanan kepada Allah SWT, dan kedekatan dengan Tuhannya.Kekuatan iman itu tidak bisa diperoleh dengan mudah. Ia memerlukan latihan. Berlatihlah dengan sungguh-sungguh di bulan Ramadhan ini dengan menahan lapar dan dahaga, dan hawa nafsu yang selalu menjajah diri. Mulailah dengan menyempurnakan puasa dan amalan lainnya di bulan Ramadhan dengan niat menundukan dirimu hanya kepada perintah Allah swt.Para kekasih Allah senantiasa merindukan Ramadhan. Ia selalu menunggu datangnya bulan yang penuh berkah ini. Bagi mereka seruan untuk berpuasa dan menegakan amalan di bulan Ramadhan tidak lagi dilihat dari segi kewajiban, tetapi menjadi suatu kebutuhan, karena ia menyadari bahwa setiap gerak ibadah yang dilakukan merupakan upaya untuk memanusiakan dirinya untuk menuju insan kamil yang bertakwa.Sampai saat ini, masih banyak orang menganggap ibadah puasa dan perintah Allah hanya sebagai kewajiban, sehingga mereka merasakan perintah itu menjadi beban yang memberatkan, dan melaksanakannyapun karena terpaksa. Namun, bagi kekasih Allah menganggap dan merasakan perintah Allah sebagai kebutuhan sehingga, ibadah apapun yang dilakukan terasa ringan dan indah karena melaksanakannya didorong oleh keinginan yang tulus dari hati nurani yang dalam (colling from withim).Ramadhan menjadi istana yang indah bagi mereka yang telah menikmati indahnya perintah puasa dan berbagai amalan lainnya di bulan ini. Mereka merasa bahagia datangnya Ramadhan karena hati mereka terpaut dengan cinta kepada Dia Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Ramadhan menjadi bulan vaksinasi bathin yang akan memperkuat jati diri mereka, membentengi diri dari penyakit Ruhani yang akan merusak tatanan keluhuran akhlak dalam kepribadiannya.Bagi kekasih Allah, Ramadhan bagaikan istana yang indah, melambangkan kebahagiaan yang tak terbatas, bahkan di tengah harta duniawi yang paling berharga. Bagi mereka, Ramadhan bukan hanya seremoni ritual yang datang dan pergi; melainkan adalah bulan berkah Allah, yang memungkinkan mereka merasakan kedalaman rahmat-Nya dan memahami makna serta kompleksitasnya dengan harapan yang tak tertandingi dan pengabdian kepada-Nya. Akibatnya, ketika Ramadhan berakhir, mereka berduka, merasakan kehilangan mutiara berharga dalam hidup mereka. Semoga kita termasuk di antara orang-orang yang telah Allah beri karunia untuk menyambut Jawahirul Ramadhan dengan penuh sukacita. Aamiin. ***